Langsung ke konten utama

Kemeriahan Acara Kadeso Di Desa Wisata Lerep Ungaran

Kemeriahan Acara Kadeso


Indonesia tak hanya kaya akan keindahan alamnya saja, tetapi Indonesia juga kaya akan tradisi, seni dan budayanya. Salah satu tradisi yang terus dilestarikan oleh masyarakat Indonesia yaitu Tradisi Kadeso (Sedekah Deso) atau Sedekah Desa, tepatnya di Desa Wisata Lerep Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah ini, masyarakatnya masih tetap memegang teguh tradisi Kadeso yang sudah ada sejak dahulu kala.

Kadeso ( Sedekah Deso ) Desa Wisata Lerep


Sejarah Kadeso

Tradisi Kadeso ini sebenarnya sudah ada sejak lama, bahkan menurut Kepala Desa Lerep yaitu Bapak Sumaryadi dahulu waktu beliau masih kecil sekitar tahun 1973 acara Kadeso ini sudah ada. Acara Kadeso ini diadakan setiap hari Rabu kliwon setelah panen, akan tetapi semakin berkembangnya jaman, masyarakat Desa Wisata Lerep banyak yang berpindah profesi yang dulunya mayoritas berprofesi senagse petani, sekarang banyak yang berpindah profesi menjadi karyawan, pegawai dan wirausaha.


Jadi hari Rabu kliwon setelah panen tidak bisa menjadi patokan lagi, sehingga acara Kadeso diselenggarakan satu tahun sekali tepatnya pada hari Rabu kliwon pada bulan Agustus karena sekaligus untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Akan tetapi apabila dibulan Agustus tidak terdapat hari Rabu kliwon maka acara Kadeso diadakan pada hari Rabu kliwon pada bulan Juli.


Semenjak Pak Sumaryadi menjabat sebagai kepala desa, acara Kadeso ini rutin diadakan setiap tahunnya, yang sebelumnya kadang ada kadang tidak.Dan sekarang acara Kadeso ini sudah dijadikan acara wajib setiap tahunnya di Desa Wisata Lerep, karena Kadeso adalah sebuah tradisi dari nenek moyang yang harus dilestarikan.


Acara Kadeso pada tahun 2018 ini sangat meriah sekali, lebih meriah dari tahun lalu karena acara Kadeso tahun ini berlangsung selama empat hari, yang dimulai hari Minggu 5 Agustus 2018 dengan acara hiburan drumblek & rebana, Senin 6 Agustus 2018 dengan acara Sendratari, geguritan bocah dan calung angklung, Selasa 7 Agustus 2018 dengan acara seni karawitan.


Dan puncaknya pada hari Rabu kliwon tanggal 8 Agustus 2018 yaitu acara Kirab Budaya Kadeso yang dimulai pagi hari, dilanjutkan dengan acara gepuk bumbung dan pagelaran wayang kulit. Acara Kadeso ini adalah sebagai wujud rasa syukur atas limpahan panen pertanian dan perkebunan para warga, dan wujud rasa syukur tersebut diungkapkan dengan cara sedekah agar selalu diberikan rejeki lancar, panen bagus , kesejahteraan dan kemakmuran.

Kirab Budaya Kadeso


Aneka hasil pertanian dan perkebunan


Gunungan

Kirab budaya Kadeso ini adalah salah satu momentum yang ditunggu-tunggu sekali, karena kirab budaya Kadeso ini sangat meriah dan tentunya juga ada filosofi didalamnya. Kirab budaya Kadeso ini adalah kegiatan keliling desa dengan membawa berbagai macam hasil pertanian dan perkebunan diantaranya Jagung, padi, ketela, umbi, kacang, ada juga beraneka ragam buah-buahan seperti pisang, apel, jambu, jeruk, sawo, nanas, salak dan lain sebagainya.
Ada juga beraneka ragam sayuran seperti terong, Lombok, tomat, bayem, kol, dan lain sebagainya.

Selain berbagai macam hasil pertanian dan perkebunan yang dibawa kirab budaya saat acara Kadeso ini, masyarakat yang tidak punya sawah ataupun kebun juga tetap bisa ikut acara kirab budaya Kadeso ini dengan membawa berbagai macam makanan tradisional seperti nasi tumpeng, ayam ingkung, nasi kuning dan masih banyak lagi.Selanjutnya seluruh hasil panen pertanian dan perkebunan juga aneka macam makanan dibawa keliling desa dan didoakan supaya Desa Lerep diberikan keamanan, kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan.

Rombongan Pemerintah Desa Lerep

Rombongan anak-anak TK

Rombongan anak-anak Sekolah Dasar

Rombongan SMP NEGERI 6 Ungaran


Acara kirab budaya Kadeso ini semakin meriah karena diikuti seluruh lapisan masyarakat Desa Wisata Lerep, mulai dari Pemerintah Desa & Lembaga Desa Wisata Lerep, siswa-siswi TK, SD hingga SMP. Tak hanya itu saja, seluruh warga juga ikut dengan membawa hasil panen pertanian, perkebunan dan aneka makanan untuk sedekahnya.

Acara ini sangat unik dan menarik karena seluruh masyarakat berkumpul dan bergembira menjadi satu tanpa mengenal perbedaan usia, status, profesi, dan agama. Selain itu juga dalam Kirab budaya Kadeso ini turut dimeriahkan oleh kesenian tradisional seperti kuda lumping, rebana dan angklung.

Arak-arakan

Saya sangat kagum dengan Desa Wisata Lerep ini karena masih mempertahankan kearifan lokal, dan acara Kirab budaya Kadeso ini juga bisa menarik banyak wisatawan karena banyak juga orang-orang dari Kota Semarang yang menyaksikan acara ini.


Bagi bagi sedekah desa

Bagi bagi sedekah desa


Setelah acara kirab budaya Kadeso selesai seluruh masyarakat membagi bagikan semua hasil panen pertanian dan perkebunan serta makan makanan yang sudah di arak keliling desa, dan disini semua warga boleh mengambil buah-buahan ataupun makanan karena sudah disedekahkan.Tak hanya untuk warga Lerep saja tetapi semua warga yang ada disitu baik itu warga setempat ataupun pengunjung dari luar Desa Lerep dipersilahkan untuk mengambil makanan ataupun buah-buahan.

Tradisi Gepuk Bumbung

Prosesi Gepuk Bumbung

Bumbung (bambu) yang digunakan sebagai tempat menabung


GEPUK BUMBUNG.

Filosofi Gepuk Bumbung ini adalah Gepuk artinya memecah dan bumbung artinya bambu, jadi tradisi Gepuk Bumbung ini adalah budaya menabung yang dilakukan oleh masyarakat Desa Lerep dengan menggunakan bambu sebagai tempatnya, dan biasanya warga memasukan uang mulai 100 rupiah, 500 rupiah hingga ribuan rupiah kedalam bambu. Dan sebagai warga negara Indonesia yang baik dan bijak kita mempunyai kewajiban untuk membayar pajak bumi dan bangunan, dan cara ini sangat efektif agar masyarakat tidak merasa berat dalam membayar pajak.

Dan diacara Kadeso ini Tradisi Gepuk Bumbung dilaksanakan, jadi semua warga mengumpulkan bumbungnya yang sudah diisi SPPT PBB & uang, lalu di gepuk atau pecah satu persatu, kemudian dihitung dan dicocokkan dengan pajak yang harus dibayar, kemudian apabila uang tabungan yang akan digunakan untuk membayar pajak masih sisa, lalu sisa uangnya di bagikan kepada anak-anak ataupun cucu agar bisa buat bekal menonton pagelaran wayang. Jadi anak-anak merasa senang dan para penjual pun ikut senang karena dagangan mereka juga laris.

Pertunjukan Wayang Kulit


Pagelaran Seni Wayang

Kesenian Wayang Kulit

para penabuh musik

Sejak dari dulu acara Kadeso ini selalu menampilkan pagelaran wayang kulit, dan dalang pada pagelaran wayang kali ini yaitu Ki Sukar dari Ambarawa. Dan setiap tahun di acara Kadeso ini selalu menyajikan pagelaran seni wayang kulit karena kesenian wayang kulit ini tidak hanya sebuah hiburan semata, tetapi kesenian wayang kulit ini didalamnya banyak sekali pesan moral dan pesan sosial yang disampaikan, seperti bagaimana cara kita berbuat baik kepada sesama manusia dan berbuat baik kepada Tuhan. Seni wayang kulit ini dahulu juga sebagai media dakwah dalam menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa yang dilakukan oleh para walisongo.
Pagelaran watawa kulit ini dimulai dari sore hingga pagi hari sehingga menambah kemeriahan acara Kadeso ini.



Gubernur Jawa Tengah : Bapak Ganjar Pranowo

Malam itu terasa special karena kedatangan orang nomor satu se Jawa Tengah yaitu Bapak Ganjar Pranowo, dan Pak Ganjar Pranowo berpesan agar kita sebagai orang Jawa khususnya Jawa Tengah itu harus bangga, karena Jawa Tengah itu mempunyai banyak kesenian, tradisi dan budaya. Dan kita harus melestarikannya agar anak cucu kita tidak lupa. Dan Pak Ganjar juga sangat mengapresiasi kepada Desa Wisata Lerep karena salah satu desa di Jawa Tengah yang berprestasi dan masih mempertahankan kearifan lokal.


Prestasi Desa Wisata Lerep

Prestasi Desa Wisata Lerep


Desa Wisata Lerep ini adalah salah satu desa berprestasi di Jawa Tengah, karena banyak sekali prestasi yang sudah diraih ditingkat Provinsi Jawa Tengah diantaranya : Juara 1 Lomba Desa ternak sehat tahun 2013, juara 1 Lomba Desa Wisata tahun 2017, Juara 2 Lomba Pokdarwis tahun 2018, Juara 2 Lomba kelompok ternak sapi 2018 dan Juara 2 Lomba BUMDES tahun 2018.Dan semua prestasi itu tidak terlepas dari dukungan masyarakat karena di Desa Wisata Lerep ini sudah mempunyai visi "GUYUB RUKUN CANCUT TALI WONDHO SAK IYEK EKO KAPTI BANGUN DESO" yaitu rasa persatuan untuk memajukan desa, satu ide, satu komando satu tujuan untuk membangun desa agar makmur dan sejahtera. Ayo berwisata ke Desa Wisata Lerep karena disana ada wisata alam, wisata edukasi dan wisata budaya.

Postingan populer dari blog ini

Cerita Seru Dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Halo sahabat Si klimis.......

      Kalian pasti sudah tidak asing lagi kan dengan salah satu gunung terindah di Provinsi Jawa Timur ini, nah ini dia Gunung Bromo yang sangat mempesona dan saat ini masuk 10 destinasi wisata unggulan di Indonesia, sehingga banyak sekali wisatawan domestik hingga mancanegara yang berbondong-bondong ingin melihat kecantikan Gunung Bromo ini. Dan kebetulan dari dulu saya sangat ingin berlibur ke Gunung Bromo, Alhamdulillah bulan Juni kemarin saya bisa berkunjung ke Gunung Bromo.


      Buat kalian yang mungkin belum tahu tentang Gunung Bromo ini sedikit penjelasan tentang Gunung Bromo, jadi Gunung Bromo ini terletak di kawasan TAMAN NASIONAL BROMO TENGGER SEMERU atau sering disingkat TNBTS. Dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini secara geografis masuk di 4 wilayah kabupaten diantaranya : 1. Kabupaten Pasuruan 2. Kabupaten Probolinggo 3. Kabupaten Malang 4. Kabupaten Lumajang. Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini sangat luas sekali, luasnya kurang le…

Berburu Kuliner di Pasar Ramadhan Depan Masjid Agung Kauman Semarang

Halo sahabat Si Klimis ......
Selamat menunaikan ibadah puasa..... Bagaimana puasanya ...? masih kuat gak ? Eh puasa puasa begini ngomongin makan bisa batal gak sih puasanya....? tenang saja, tidak batal kalau ngomonginnya tidak sambil makan ya.Nah kali ini Si Klimis mau mengajak kalian untuk berburu kuliner di pasar ramadhan, tenang saja kita berburu kulinernya untuk berbuka puasa tentunya.





Hari senin tanggal 21 Mei 2018 sekitar pukul 15.06 saya sampai di Masjid Agung Kauman Semarang. Masjid yang dibangun sekitar tahun 1749 M ini masih berdiri kokoh sampai saat ini dan dahulu masjid ini juga menjadi pusat perkembangan islam di tanah jawa. Kebetulan pas sampai di sana bertepatan dengan waktu sholat ashar, akhirnya sebelum menjelajahi pasar ramadhan saya sempatkan dulu untuk sholat ashar berjamaah di masjid agung kauman Semarang. Jujur saya agak terkejut melihat banyaknya jamaah yang sholat ashar disana, dan setelah selesai sholat ashar saya sempatkan bertanya dengan salah satu penjag…