Menilik Indahnya Museum Kotagede Yogyakarta


Museum Kotagede

Jogja membuat banyak orang selalu terhipnotis oleh keindahannya. Setelah beberapa bulan tidak mengunjungi kota gudeg ini karena pandemi covid-19. Akhirnya bulan Februari 2022 aku bisa kembali menginjakkan kaki lagi di kota pelajar yg penuh kenangan

Kedatangan ku ke Jogja kali ini untuk mengikuti Famtrip Tour De Java Promo 2022 dan kunjungan di hari pertama salah satunya ke Museum Kotagede Kota Yogyakarta.

Rombongan Tour De Java Promo 2022

Salah satu hal yang membuat unik Jogja yaitu budayanya. Karena di Jogja budaya Jawa masih sangat terasa sekali dibandingkan di daerah lain di Pulau Jawa. Hal inilah yang membuat Jogja banyak dicintai oleh wisatawan.

Tak lengkap rasanya jika liburan ke Jogja tetapi tidak mengunjungi tempat-tempat yang mempunyai nilai seni budaya yang tinggi, karena sebagai generasi penerus bangsa kita harus mengetahui apa saja seni budaya dari nenek moyang kita. Nah kali ini aku ingin mengajak kalian untuk menjelajahi "Museum Kotagede Intro Living Museum"

Lokasi Museum Kotagede

Setelah puas bersepeda ria di Malioboro, rombongan kami melanjutkan perjalanan ke Museum Kota Gede, yang lokasinya berada di Jalan Tegalgendu No. 20 B Kelurahan Prenggan Kecamatan Kotagede Kota Yogyakarta Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, atau jaraknya sekitar 7 KM dari Malioboro.

Untuk menuju ke Museum Kotagede ini tidak begitu susah karena berada di pinggir jalan raya sehingga bisa diakses oleh segala jenis kendaraan. Setelah sekitar 15 menit perjalanan dari Museum Pintar, akhirnya rombongan kami sampai juga di Museum Kotagede.

Apa itu Museum Kotagede?

Pertama kali melihat rundown acara Famtrip Tour De Java Promo 2022 aku sangat penasaran dengan destinasi Museum Kotagede, karena jujur saja aku baru mendengar nama museum ini, dan pastinya juga sangat penasaran, apa sih Museum Kotagede ini?

Museum Kotagede merupakan sebuah museum yang baru diresmikan pada bulan Desember 2021. Yang mana Museum Kotagede ini menggunakan bangunan warisan budaya yang mempunyai nilai penting sebagai bangunan penanda karakter kawasan di Kotagede sehingga sangat perlu untuk dilindungi dan dilestarikan.

Nampak dari depan, bangunan Museum Kotagede ini sangat unik sekali, karena perpaduan antara gaya Indisch dan Jawa, serta hiasannya mengandung unsur ornamen Art Deco dan gaya art Neuveau. Ternyata bangunan yang digunakan sebagai Museum Kotagede ini dahulu merupakan rumah kalang atau kediaman B.H. Noeriyah yang mana beliau adalah keturunan kalang yang sangat terkenal sebagai pengusaha kerajinan emas dan diperkirakan dibangun pada tahun 1931.

Museum Kotagede ini mempunyai tujuan sebagai pusat informasi tentang sejarah Kotagede sehingga masyarakat bisa lebih tahu tentang potensi heritage dan budaya Kotagede secara lengkap.

Ada Apa Saja di Museum Kota Gede

Museum Kota Gede ini mempunyai empat bagian, yang mana empat bagian Museum Kotagede ini terdiri dari 1. Situs arkeologi dan lanskap sejarah 2. Kemahiran (teknologi) tradisional. 3. Sastra, seni pertunjukan, adat tradisi, dan kehidupan keseharian. 4. Pergerakan sosial kemasyarakatan.

Pada bagian arkeologi dan sejarah kita bisa melihat koleksi peninggalan jaman dahulu yang berupa artefak, bangunan, cagar budaya, dan masih banyak lagi. Sedangkan untuk bagian kemahiran tradisional terdapat informasi peninggalan arsitektur dan kerajinan perak, yang mana Kota Gede merupakan daerah penghasil kerajinan perak sejak jaman dahulu hingga sekarang.

Bagian sastra, seni pertunjukan, adat tradisi terdapat beberapa kreasi seni serta kuliner khas Kotagede diantaranya Kipo dan Waru. Selanjutnya di bagian pergerakan sosial terkait dengan perjalanan sejarah muncul dan berkembangnya organisasi sosial dan kemasyarakatan Kotagede.

Terowongan di Museum Kotagede

Salah satu sudut yang membuatku penasaran yaitu terdapat terowongan tersembunyi, yang katanya bisa tersambung kesebuah tempat. Namun saat ini terowongan tersebut sudah ditutup dan tidak digunakan lagi, aku pun masih penasaran terowongan ini dahulu digunakan sebagai apa.

Meskipun menyimpan benda-benda bersejarah namun Museum Kotagede ini juga sudah menerapkan tekhnologi yang terkini sehingga membuat Museum Kotagede ini semakin keren. Karena pengunjung bisa  merasakan pengalaman yang unik dan juga menambah wawasan ketika berkunjung ke Museum Kotagede.

Saat ini Museum Kotagede dikelola oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta dan jika kalian ingin berkunjung ke Museum Kotagede, saat ini belum dikenakan tiket masuk tetapi harus melalui reservasi terlebih dahulu, untuk informasi lebih lengkap kalian bisa lihat di instagram @Museumkotagede.

Ayo wisata ke Yogyakarta.







18 Komentar

  1. Ahhh baru pertama juga aku kesini. Dan bangunan nya unik banget yaa. Buat foto-foto juga asik. Trus cerita nya menarik juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akhirnya nemu hidden gems dan masih banyak orang yg belum tahu. Aesthetic sih ini bangunannya.

      Hapus
  2. Rupanya museum Kotagede ini baru dibuka ya.

    Saya jadi ikut penasaran juga sama terowongannya deh. Berarti dulunya bangunan museum ini, bangunan lama yang dipugar ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak baru diresmikan Desember 2021, ini dulu bangunan rumah kalang.

      Hapus
  3. Ahaha. Saya pun baru mendengar museum ini. Kalau ke Kotagede ya taunya makam raja-rajanya.

    Mas, waktu itu nggak ada niatan kabur dari rombongan buat nerobos pintu terowongannya? Nggak enak lho penasaran dan nggak tau mengarah kemana terowongan tersebut :)

    BalasHapus
  4. Saya dengar orang Kalang itu dulu kaya-raya, makanya banyak dari mereka yang bisa bikin rumah bagus-bagus di kawasan Kotagede. Dan museum ini salah satunya kan?

    BalasHapus
  5. Arsitektur museum Kotagede ini mirip-mirip keraton Jawa ya Mas. Dominan warna hijau dengan jendela lebar. Begitu pun interior di dalamnya, mencerminkan ruang para sultan. Nah aku suka banget tuh pada isinya, ada anting perak yang modelnya masih relevan dengan masa kini

    BalasHapus
  6. Wuih, ada terowongan tersembunyi di Museum Kotagede ini :) Ada empat bagian di sini yang isinya unik dan antik semua ya, mas. Horang kaya ini yang bisa punya segalanya begini. Btw, keingetan ada pintu bawah tanah juga di Lawang Sewu. Apa fungsinya dulu mirip kayak ruangan rahasia di museum ini ya? Coba kita bisa masuk ya hihihi.

    BalasHapus
  7. wah baca artikelnya Mas Zain jadi kangen dengan Jogja niy Mas, terakhir ke kota Gede ini tahun 2019 akhir apa awal 2020 sebelum pandemi, jadi kangen pengen ke sana lagi

    BalasHapus
  8. Meskipun sekarang udah banyak resto/cafe atau tempat wisata kekinian di Jogja. Tetapi, budaya lokalnya juga masih berasa. Buat saya memang ketertarikan datang ke Jogja memang karena budayanya

    BalasHapus
  9. Aku juga baru tau lho soal Museum Kotagede, padahal tinggal di Jogja. Aku suka arsitekturnya, perpaduan kolonial dan peranakan gitu ya.

    BalasHapus
  10. Duh, ini yang belum pernah keturutan kalau ke Jogja; Kota Gede. Insya Allah bisa menjejakkan kaki di sini seperti mas Zain.

    BalasHapus
  11. Aku mikir kok baru tahu museum ini ternyata memang baru dibuka ya pengen ke sana deh dengan bocah-bocah mereka senang banget tur museum, semoga situasi segera membaik ya bisa piknik lagi..

    BalasHapus
  12. Pernah lama tinggal di Yogya tapi ngga pernah tau kalo ada museum Kota Gede..oalah ternyata baru ya. Pantesan aja baru tau..hehe, terakhir ke Yogya tahun 2019 sebelum negara api menyerang aka koronce. Semoga thn ini bisa deh balik lagi ke Yogya dan tentunya mampir ke museum Kota Gede.

    BalasHapus
  13. Aku bisa lupa waktu kalau ke sini sik. Dipastikan aku akan lama di masing-masing empat bagian museum Kota Gede ini. Saya suka sejarah dan kunjungan museum-museum. Melihat masa lalu, membandingkannya dengan masa sekarang, dan selalu berakhir di kesimpulan: Masing-masing waktu punya fase-fasenya sendiri. heheh

    Ke Jogja kudu ke sini neh.

    BalasHapus
  14. semoga berkesempatan ke sini, menarik
    kalau ke jogya hampir ga pernah masuk ke museum

    BalasHapus
  15. Jogja, rasanya sudah lama tidak berkunjung kesana. Semoga pandemi cepat mereda dan kita bisa menjelah lebih jauh lagi. Amin

    BalasHapus
  16. Meski sekarang lebih padat dan macet dimana-mana, tapi buat aku Jogja selalu ngangeni. Salam kenal Mas

    BalasHapus